Sunday, April 5, 2015

Menembus Cakrawala Melampaui Keterbatasan

Di dunia ini seni dibagi menjadi 3 macam, yaitu seni visual, seni audio, dan seni audio visual. 3 macam seni tersebut dapat dibagi lagi. Seni visual yaitu seni bangunan, lukisan, poster, seni gerak beladiri dan sebagainya. Seni audio yaitu seni musik, seni suara, seni sastra. Seni audio visual yaitu musik, pagelaran wayang, dan film.
            Hal ini saya akan membahas tentang seni visual. Seni visual dalam era ini bukan lagi menjadi hanya untuk sekedar hobi, melainkan untuk mencukupi kebutuhan hidup setiap pelaku seni tersebut. Seni visual sendiri dijual dengan harga yang tidak murah. Tak heran kan jaman sekarang banyak yang berkeinginan menjadi pekerja seni visual. Yang termasuk kedalam pekerja seni visual adalah arsitek, desainer baju, pemahat, pelukis, dan sebagainya.
            Seni visual ternyata dapat dilakukan oleh semua orang, bukan hanya orang yang sempurna dalam artian memiliki segala hal yang dia butuhkan, melainkan juga untuk orang yang susah dalam menjalani hidupnya, seperti tunanetra, tunarungu, dan sebagainya.
            Anda semua pasti mengetahui apa itu seni visual kan? Bagaimana keindahan diatur dari setiap sisi yang dapat dilihat maupun tidak dapat dilihat. Seniman sendiri menuangkan isi hati dan emosinya  kedalam karya yang dia buat. Terkadang pula, banyak orang yang tidak mengerti isi atau maksud dari seni yang seniman buat dan hanya seniman tersebut yang mengetahuinya. Leo Tolstoy mengungkapkan bahwa “Seni adalah ungkapan perasaan pencipta yanng disampaikan kepada orang lain agar mereka dapat merasakan apa yang dirasakan pelukis.” Seni pula sangat sulit untuk dijelaskan dan dinilai. Maka dari itu, banyak karya seni yang dijual tidak murah, bukan hanya Rp. 1000 atau Rp. 5000, melainkan bisa menjadi Rp. 10.000.000. Tak heran kan bahwa jaman sekarang banyak orang yang ingin menjadi pekerja seni?
            Di sini saya akan mengangkat seorang desainer baju yang sudah terkenal di seluruh dunia, bukan hanya negaranya sendiri. Desainer ini berasal dari Indonesia. Bangga kan kalian punya desainer asal Indonesia yang menjadi desainer internasional? Dan hebatnya, dia bukan hanya seorang yang biasa saja. Dia luar biasa. Di tengah segala kekurangan yang ada dalam dirinya, dia dapat mengekspresikan seluruh hal yang dia miliki kedalam apresiasi seni yang ia buat. Umurnya yang masih 13 tahun pun akan sangat mengejutkan kalian semua, desainer yang umurnya sudah dewasa saja belum tentu dapat maju di dunia internasional, sedangkan dia seorang anak berumur 13 tahun dan memiliki gangguan pendengaran dapat mengalahkan seluruh desainer yang ada di Indonesia, sebut saja namanya Rafi Ridwan.
            Saat ibu Rafi mengandung Rafi 13 tahun silam, beliau tak menyangka bahwa ia diberi cobaan yang begitu berat. Ibu Rafi terinfeksi virus Rubella di Trimester pertama kehamilannya yang memungkinkan bahwa beliau melahirkan anak dalam keadaan cacat. Kemudian dokter kandungannya, Prof. Sudigdo memberikan pilihan kepadanya untuk meneruskan kehamilannya atau sebaliknya. Jika meneruskan kehamilan tersebut, ada resiko yang harus ia tanggung, yaitu ketika lahir nanti, kemungkinan anaknya akan terganggu penglihatannya, pendengarannya ataupun jantungnya. Gangguan tersebut bisa salah satunya, ataupun ketiga-tiganya secara bersamaan sehingga menyebabkan komplikasi. Hal tersebut membuat ibu Rafi berpikir selama 3 hari. Akhirnya ia memutuskan untuk meneruskan kehamilan tersebut, walaupun resiko tersebut bakal di tanggung anaknya seumur hidupnya.
            Hari itu, tanggal 20 Juli 2002. Rafi Abdurrahman Ridwan dilahirkan di Rumah Sakit Medistra Jakarta setelah melewati proses persalinan selama 12 jam. Ya, Rafi Abdurrahman Ridwan adalah nama lengkapnya. Namun ia kerap dipanggil Rafi Ridwan.
            Walaupun Rafi terlahir normal, namun orang tuanya masih was was terhadap anaknya tersebut, apakah yang di katakan dokter waktu itu akan terjadi kepada anaknya atau tidak. Dan rasa was was tersebut semakin menjadi ketika Rafi berusia 3 bulan, saat itu Rafi belum fokus penglihatannya. Setiap kali orang tua Rafi melayangkan benda di depan matanya, ia tak merespon. Akhirnya Rafi diberikan terapi alam.
            Selama sebulan ia menjalani terapi, Akhirnya dokter mata menyatakan bahwa penglihatan Rafi baik-baik saja. Rafi bisa melihat walaupun hingga 8 bulan ia terus menerus belekan.
            Lolos dari resiko gangguan penglihatan, orang tua Rafi menguji pendengarannya. Sepulang kerja orang tua Rafi membelikannya 10 buah balon. Saat Rafi pulas tertidur, orang tuanya memecahkan balon-balon itu satu persatu. Hingga balon yang ke-10, Rafi masih saja pulas tertidur.
            Suatu ketika Rafi pernah bertanya kepada ibunya, “Mama, suara itu seperti apasih?” kemudian ibunya menjawab, “seperti warna-warni yang melengkapi pemandangan” syukurlah saat itu Rafi dapat menerima jawaban dari ibunya.
            Sejak kecil Rafi jatuh cinta pada warna-warna yang indah. Ia sangat menyukai ikan hias. Jika berprestasi di sekolah, ia selalu meminta untuk dibelikan ikan hias. Kesukaannya pada ikan hias ini kemudian membukakannya untuk bergelut dalam dunia fashion. Akibat dari kesukaannya terhadap ikan hias, Rafi suka dengan film kartun Ariel the Mermaid.
            Sejak usia 3 tahun, ia suka menggambar ikan duyung yang mengenakan pakaian indah. Setahun kemudian, Rafi mulai bisa menggambar berbagai baju. Ia mulai mendesain kebaya, busana muslim dan gaun.
            Rafi termasuk anak yang bersemangat dan berkeingin tahuan yang sangat tinggi. Ia suka mengeksplorasi berbagai bidang. Selain menggambar, Rafi juga bisa memasak dan memotret. Hal tersebut dibiarkan oleh orang tua Rafi, karena bagi mereka hal-hal kecil seperti ini dapat menjunjung Rafi untuk mencapai masa depannya.
            Saat usia Rafi 7 tahun, ia terpaksa berhenti sekolah karena suatu penyakit. Setiap kali ia kecapekan, ia selalu mimisan. Setelah berkonsultasi dengan dokter, tenyata Rafi membutuhkan istirahat yang cukup. Sekitar 2 tahun lamanya, Rafi cuti sekolah.
            Tak disangkanya, saat masa-masa istirahat ini, Rafi justru sangat produktif untuk menghasilkan karya-karya. Ia banyak menggambar motif batik dan desain baju. Kecintaannya pada fashion memang semakin menjadi-jadi setelah ia menonton berbagai acara fashion di TV. Orang tuanya pun kerap membelikan majalah-mahalah fashion yang ia baca berulang kali.
            Suatu hari Rafi membaca artikel tentang pagelaran busana di majalah. Ia bertanya pada ibunya, “Bagaimana aku dapat mengikuti acara fashion show seperti itu ?” lalu ibunya menjawab, “Kita tidak bisa asal mengikuti acara fashion show seperti itu.” Kemudian Rafi menangis sejadi-jadinya. Karena ibunya tak tega mendengar tangisannya, akhirnya ibunya bertekad mencari cara untuk dapat mengikutsertakan Rafi ke dalam acara fashion show tersebut.
Rafi melihat fashion show pertama kalinya berdasarkan karya Auguste Soesastro dan karena fashion show tersebut, Rafi terinspirasi untuk menjadi desainer baju atau istilahnya fashion designer. Yang membuat Rafi tertarik pada seni adalah karena jawaban ibunya tentang bagaimanakah suara itu. Hal tersebut membuat Rafi sangat berantusias untuk mendalami seni dan warna.
April 2011, Rafi didaftarkan dalam lomba I Got Talent  yang diadakan oleh I-Hear Foundation , sebuah yayasan yang didirikan oleh orang tua dan keluarga anak-anak dengan masalah pendengaran. Dalam lomba itu, Rafi mendemonstrasikan bakatnya mendesain baju. Tak disangka, ia keluar sebagai juara 1. Padahal, semua jurinya berasal dari luar negeri. Kemudian kemenangan ini diliput sebuah media berbahasa asing.
            Rafi membuat sketsa desainnya dan terkadang aksesoris juga menggunakan warna pelangi. Karir Rafi mulai berkembang setelah ia bertemu dengan desainer asal Indonesia, Barli Asmara dalam acara Jakarta Food Festival and Fashion Festival. Barli terkesima dengan hasil karya Rafi dan mengundang Rafi dalam acara workshopnya. Setelah itu Barli mengajak Rafi untuk bekerja sama membuat desain baju untuk membuat koleksi kecil yang di tampilkan dalam kantin di Plaza Indonesia, 20 juli 2011.
            Rafi banyak terlibat dalam setiap aspek ciptaanya, termasuk kain yang ia gunakan untuk setiap garmen. Desainnya merupakan desain yang terbesar diantara peserta yang lainnya. Fashion show kecil ini adalah awal dari karirnya.
Pada tahun 2012 lalu pula, Rafi terlibat dalam rangkaian ajang Jakarta Fashion Week (JFW 2012) ini, Rafi berkolaborasi dengan Nonita Respati dari rumah mode Purana Batik dan Ariani Pradjasaputra dari Aarti untuk aksesori. Ketiganya menghasilkan kolaborasi yang kuat yang di beri nama PAR. Koleksi busana bertajuk “Echoes of Heritage” ini berisi 24 jajaran busana ready-to-wear. Tema ini dipilih sesuai visi dari LC foundation selaku penggagas proyek kolaborasi dan pagelaran ini.
            Kini di usianya yang menginjak 12 tahun, rancangan Rafi Ridwan ini dipakai oleh finalis “American Next Top Model” yang diprakasai oleh model terkenal Tyra Banks. Karya Rafi bersama Oka Diputura, desainer indonesia lainnya dipakai untuk keperluan sesi pemotretan bertema “Green” dengan pemandangan sawah di bali.

Berikut ini adalah rancangan mereka :






             Tahukah kalian? Bahwa rancangan yang digunakan Rafi untuk Jakarta Fashion Week 2012 membutuhkan waktu hanya dalam  3 minggu, untuk beberapa model baju. 3 minggu itu merupakan deadline yang diberikan oleh Tyra Banks sendiri.
            Hebat kan Rafi Ridwan? Walau ditengah kekurangannya ia dapat berkarya sebesar mungkin, seperti orang-orang yang normal. Hidupnya dipenuhi dengan kesunyian, ia tak mengenal apa itu suara. Karena ia tak dapat mendengar suara, akhirnya suara tersebut ia ubah menjadi sebuah karya dengan warna sebagai objek yang ia anggap itu suara.
            Dengan ia berkarya bersama warna, ia menunjukkan pada dunia bahwa ia dapat mendengar suara-suara yang belum pernah ia dengar. Baginya warna adalah suara. Jika ia berhenti bermain dengan warna, maka hidupnya akan penuh dengan kesunyian yang sebenarnya.
            Dari hal ini kita dapat memotivasi diri kita sendiri, bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mencapai kesuksesan. Jadi, kalau kalian ingin sukses kedepannya, kalian harus berusaha dengan semangat, belajar dari pengalaman kalian sendiri, maupun dari pengalaman orang lain. Belajar bukan hanya dari buku dan guru saja, melainkan belajar dapat kita ambil dari segi manapun tergantung bagaimana kita menyerapnya.
            Seni sendiri dimiliki oleh setiap orang, sebenarnya. Namun hal tersebut tergantung bagaimana orang itu mengenal seni. Menulis dan membaca pun dapat diartikan seni, menulis termasuk kedalam seni sastra kan? Dan membaca pun termasuk seni sastra pula karena kita membaca tulisan karya seseorang berdasarkan sastra. So, find your own art! [dew].























Sumber :

No comments:

Post a Comment