Di dunia ini seni
dibagi menjadi 3 macam, yaitu seni visual, seni audio, dan seni audio visual. 3
macam seni tersebut dapat dibagi lagi. Seni visual yaitu seni bangunan,
lukisan, poster, seni gerak beladiri dan sebagainya. Seni audio yaitu seni
musik, seni suara, seni sastra. Seni audio visual yaitu musik, pagelaran
wayang, dan film.
Hal
ini saya akan membahas tentang seni visual. Seni visual dalam era ini bukan
lagi menjadi hanya untuk sekedar hobi, melainkan untuk mencukupi kebutuhan
hidup setiap pelaku seni tersebut. Seni visual sendiri dijual dengan harga yang
tidak murah. Tak heran kan jaman sekarang banyak yang berkeinginan menjadi
pekerja seni visual. Yang termasuk kedalam pekerja seni visual adalah arsitek,
desainer baju, pemahat, pelukis, dan sebagainya.
Seni
visual ternyata dapat dilakukan oleh semua orang, bukan hanya orang yang
sempurna dalam artian memiliki segala hal yang dia butuhkan, melainkan juga
untuk orang yang susah dalam menjalani hidupnya, seperti tunanetra, tunarungu,
dan sebagainya.
Anda
semua pasti mengetahui apa itu seni visual kan? Bagaimana keindahan diatur dari
setiap sisi yang dapat dilihat maupun tidak dapat dilihat. Seniman sendiri
menuangkan isi hati dan emosinya kedalam
karya yang dia buat. Terkadang pula, banyak orang yang tidak mengerti isi atau
maksud dari seni yang seniman buat dan hanya seniman tersebut yang
mengetahuinya. Leo Tolstoy mengungkapkan bahwa “Seni adalah ungkapan perasaan pencipta yanng disampaikan
kepada orang lain agar mereka dapat merasakan apa yang dirasakan pelukis.” Seni pula
sangat sulit untuk dijelaskan dan dinilai. Maka dari itu, banyak karya seni
yang dijual tidak murah, bukan hanya Rp. 1000 atau Rp. 5000, melainkan bisa
menjadi Rp. 10.000.000. Tak heran kan bahwa jaman sekarang banyak orang yang
ingin menjadi pekerja seni?
Di sini saya akan
mengangkat seorang desainer baju yang sudah terkenal di seluruh dunia, bukan
hanya negaranya sendiri. Desainer ini berasal dari Indonesia. Bangga kan kalian
punya desainer asal Indonesia yang menjadi desainer internasional? Dan
hebatnya, dia bukan hanya seorang yang biasa saja. Dia luar biasa. Di tengah
segala kekurangan yang ada dalam dirinya, dia dapat mengekspresikan seluruh hal
yang dia miliki kedalam apresiasi seni yang ia buat. Umurnya yang masih 13
tahun pun akan sangat mengejutkan kalian semua, desainer yang umurnya sudah
dewasa saja belum tentu dapat maju di dunia internasional, sedangkan dia
seorang anak berumur 13 tahun dan memiliki gangguan pendengaran dapat
mengalahkan seluruh desainer yang ada di Indonesia, sebut saja namanya Rafi
Ridwan.
Saat ibu Rafi
mengandung Rafi 13 tahun silam, beliau tak menyangka bahwa ia diberi cobaan
yang begitu berat. Ibu Rafi terinfeksi virus Rubella di Trimester pertama
kehamilannya yang memungkinkan bahwa beliau melahirkan anak dalam keadaan
cacat. Kemudian dokter kandungannya, Prof. Sudigdo memberikan pilihan kepadanya
untuk meneruskan kehamilannya atau sebaliknya. Jika meneruskan kehamilan
tersebut, ada resiko yang harus ia tanggung, yaitu ketika lahir nanti, kemungkinan
anaknya akan terganggu penglihatannya, pendengarannya ataupun jantungnya.
Gangguan tersebut bisa salah satunya, ataupun ketiga-tiganya secara bersamaan
sehingga menyebabkan komplikasi. Hal tersebut membuat ibu Rafi berpikir selama
3 hari. Akhirnya ia memutuskan untuk meneruskan kehamilan tersebut, walaupun
resiko tersebut bakal di tanggung anaknya seumur hidupnya.
Hari itu, tanggal 20
Juli 2002. Rafi Abdurrahman Ridwan dilahirkan di Rumah Sakit Medistra Jakarta
setelah melewati proses persalinan selama 12 jam. Ya, Rafi Abdurrahman Ridwan
adalah nama lengkapnya. Namun ia kerap dipanggil Rafi Ridwan.
Walaupun Rafi terlahir
normal, namun orang tuanya masih was was terhadap anaknya tersebut, apakah yang
di katakan dokter waktu itu akan terjadi kepada anaknya atau tidak. Dan rasa
was was tersebut semakin menjadi ketika Rafi berusia 3 bulan, saat itu Rafi
belum fokus penglihatannya. Setiap kali orang tua Rafi melayangkan benda di
depan matanya, ia tak merespon. Akhirnya Rafi diberikan terapi alam.
Selama sebulan ia
menjalani terapi, Akhirnya dokter mata menyatakan bahwa penglihatan Rafi
baik-baik saja. Rafi bisa melihat walaupun hingga 8 bulan ia terus menerus belekan.
Lolos dari resiko
gangguan penglihatan, orang tua Rafi menguji pendengarannya. Sepulang kerja
orang tua Rafi membelikannya 10 buah balon. Saat Rafi pulas tertidur, orang
tuanya memecahkan balon-balon itu satu persatu. Hingga balon yang ke-10, Rafi
masih saja pulas tertidur.
Suatu ketika Rafi
pernah bertanya kepada ibunya, “Mama, suara itu seperti apasih?” kemudian
ibunya menjawab, “seperti
warna-warni yang melengkapi pemandangan” syukurlah saat itu Rafi dapat menerima
jawaban dari ibunya.
Sejak kecil Rafi jatuh cinta pada
warna-warna yang indah. Ia sangat menyukai ikan hias. Jika berprestasi di
sekolah, ia selalu meminta untuk dibelikan ikan hias. Kesukaannya pada ikan
hias ini kemudian membukakannya untuk bergelut dalam dunia fashion. Akibat dari
kesukaannya terhadap ikan hias, Rafi suka dengan film kartun Ariel the Mermaid.
Sejak usia 3 tahun, ia suka
menggambar ikan duyung yang mengenakan pakaian indah. Setahun kemudian, Rafi
mulai bisa menggambar berbagai baju. Ia mulai mendesain kebaya, busana muslim
dan gaun.
Rafi termasuk anak yang bersemangat
dan berkeingin tahuan yang sangat tinggi. Ia suka mengeksplorasi berbagai
bidang. Selain menggambar, Rafi juga bisa memasak dan memotret. Hal tersebut
dibiarkan oleh orang tua Rafi, karena bagi mereka hal-hal kecil seperti ini
dapat menjunjung Rafi untuk mencapai masa depannya.
Saat usia Rafi 7 tahun, ia terpaksa
berhenti sekolah karena suatu penyakit. Setiap kali ia kecapekan, ia selalu
mimisan. Setelah berkonsultasi dengan dokter, tenyata Rafi membutuhkan
istirahat yang cukup. Sekitar 2 tahun lamanya, Rafi cuti sekolah.
Tak disangkanya, saat masa-masa
istirahat ini, Rafi justru sangat produktif untuk menghasilkan karya-karya. Ia
banyak menggambar motif batik dan desain baju. Kecintaannya pada fashion memang
semakin menjadi-jadi setelah ia menonton berbagai acara fashion di TV. Orang
tuanya pun kerap membelikan majalah-mahalah fashion yang ia baca berulang kali.
Suatu hari Rafi membaca artikel
tentang pagelaran busana di majalah. Ia bertanya pada ibunya, “Bagaimana aku
dapat mengikuti acara fashion show
seperti itu ?” lalu ibunya menjawab, “Kita tidak bisa asal mengikuti acara fashion show seperti itu.” Kemudian Rafi menangis sejadi-jadinya. Karena
ibunya tak tega mendengar tangisannya, akhirnya ibunya bertekad mencari cara
untuk dapat mengikutsertakan Rafi ke dalam acara fashion show tersebut.
Rafi melihat fashion show pertama kalinya berdasarkan karya Auguste
Soesastro dan karena fashion show tersebut, Rafi terinspirasi untuk menjadi
desainer baju atau istilahnya fashion
designer. Yang membuat Rafi tertarik pada seni adalah karena jawaban ibunya
tentang bagaimanakah suara itu. Hal tersebut membuat Rafi sangat berantusias
untuk mendalami seni dan warna.
April 2011, Rafi didaftarkan dalam lomba I Got Talent yang diadakan
oleh I-Hear Foundation , sebuah
yayasan yang didirikan oleh orang tua dan keluarga anak-anak dengan masalah
pendengaran. Dalam lomba itu, Rafi mendemonstrasikan bakatnya mendesain baju.
Tak disangka, ia keluar sebagai juara 1. Padahal, semua jurinya berasal dari
luar negeri. Kemudian kemenangan ini diliput sebuah media berbahasa asing.
Rafi membuat sketsa desainnya dan terkadang aksesoris juga menggunakan
warna pelangi. Karir Rafi mulai berkembang setelah ia bertemu dengan desainer
asal Indonesia, Barli Asmara dalam acara Jakarta
Food Festival and Fashion Festival. Barli terkesima dengan hasil karya Rafi
dan mengundang Rafi dalam acara workshopnya. Setelah itu Barli mengajak Rafi
untuk bekerja sama membuat desain baju untuk membuat koleksi kecil yang di
tampilkan dalam kantin di Plaza Indonesia, 20 juli 2011.
Rafi banyak terlibat dalam setiap
aspek ciptaanya, termasuk kain yang ia gunakan untuk setiap garmen. Desainnya
merupakan desain yang terbesar diantara peserta yang lainnya. Fashion show
kecil ini adalah awal dari karirnya.
Pada tahun 2012 lalu pula, Rafi terlibat dalam rangkaian ajang
Jakarta Fashion Week (JFW 2012) ini, Rafi berkolaborasi dengan Nonita Respati
dari rumah mode Purana Batik dan Ariani Pradjasaputra dari Aarti untuk
aksesori. Ketiganya menghasilkan kolaborasi yang kuat yang di beri nama PAR.
Koleksi busana bertajuk “Echoes of Heritage” ini berisi 24 jajaran busana
ready-to-wear. Tema ini dipilih sesuai visi dari LC foundation selaku penggagas
proyek kolaborasi dan pagelaran ini.
Kini di usianya yang menginjak 12
tahun, rancangan Rafi Ridwan ini dipakai oleh finalis “American Next Top Model”
yang diprakasai oleh model terkenal Tyra Banks. Karya Rafi bersama Oka
Diputura, desainer indonesia lainnya dipakai untuk keperluan sesi pemotretan
bertema “Green” dengan pemandangan sawah di bali.
Berikut ini adalah rancangan mereka :
Tahukah kalian?
Bahwa rancangan yang digunakan Rafi untuk Jakarta Fashion Week 2012 membutuhkan
waktu hanya dalam 3 minggu, untuk
beberapa model baju. 3 minggu itu merupakan deadline yang diberikan oleh Tyra
Banks sendiri.
Hebat kan Rafi Ridwan? Walau ditengah
kekurangannya ia dapat berkarya sebesar mungkin, seperti orang-orang yang
normal. Hidupnya dipenuhi dengan kesunyian, ia tak mengenal apa itu suara.
Karena ia tak dapat mendengar suara, akhirnya suara tersebut ia ubah menjadi
sebuah karya dengan warna sebagai objek yang ia anggap itu suara.
Dengan ia berkarya bersama warna, ia
menunjukkan pada dunia bahwa ia dapat mendengar suara-suara yang belum pernah
ia dengar. Baginya warna adalah suara. Jika ia berhenti bermain dengan warna,
maka hidupnya akan penuh dengan kesunyian yang sebenarnya.
Dari hal ini kita dapat memotivasi
diri kita sendiri, bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mencapai
kesuksesan. Jadi, kalau kalian ingin sukses kedepannya, kalian harus berusaha
dengan semangat, belajar dari pengalaman kalian sendiri, maupun dari pengalaman
orang lain. Belajar bukan hanya dari buku dan guru saja, melainkan belajar
dapat kita ambil dari segi manapun tergantung bagaimana kita menyerapnya.
Seni sendiri dimiliki oleh setiap
orang, sebenarnya. Namun hal tersebut tergantung bagaimana orang itu mengenal
seni. Menulis dan membaca pun dapat diartikan seni, menulis termasuk kedalam
seni sastra kan? Dan membaca pun termasuk seni sastra pula karena kita membaca
tulisan karya seseorang berdasarkan sastra. So,
find your own art! [dew].
Sumber :
http://sosok.kompasiana.com/2012/02/01/rafi-abdurrahman-ridwan-temukan-suara-dalam-warna-435315.html



